10 “Dosa Besar” yang Sering Dilakukan Trader

Bagi para trader, trading merupakan bagian dari kehidupan. Trader yang menjalani “kehidupannya” dengan baik akan mendapatkan hasil yang baik juga. Sebaliknya trader yang sering melakukan “dosa” dalam “kehidupannya” akan mendapatkan“neraka” yang pedih pula.

Kali ini kita akan membicarakan mengenai “dosa-dosa” yang sering dilakukan para trader. Sialnya, banyak sekali trader yang melakukan “dosa-dosa” tersebut secara sadar.

Dosa yang pertama adalah terlalu banyak mengambil resiko. Resiko memang merupakan bagian tak terpisahkan dalam trading, tetapi kalau terlalu banyak? tak sedikit pula trader yang mengalami kehancuran gara-gara melakukan dosa ini. Hal tersebut sangat erat kaitannya dengan leverage. Mereka menganggap bahwa modal untuk melakukan transaksi sangat murah, sehingga mereka melipatgandakan volume transaksi mereka dengan harapan mendapatkan keuntungan yang melimpah ruah. Mereka tak sadar bahwa sebenarnya leverage itu ibarat pedang bermata dua, dimana di balik peluang yang besar itu tersembunyi resiko yang tak kalah besarnya.

Dosa ke-2, adalah overtrading. Maksudnya adalah terlalu banyak melakukan transaksi. Pasar uang memang luar biasa, ia menawarkan volume transaksi trilyunan dollar per hari yang berlangsung 24 jam sehari, 5 hari seminggu. Hal ini memancing orang untuk bertransaksi secara berlebihan, tanpa menyadari bahwa gejolak emosi yang mewarnai setiap aksi dalam trading bisa menguras tenaga dan pikiran. Pada gilirannya hal ini akan menyebabkan kelelahan fisik dan mental, yang akhirnya akan mempengaruhi konsistensi kita dalam trading.

Dosa yang ke-3 adalah terburu-buru dalam mengambil keputusan. Kurang sabar. Orang-orang yang melakukan dosa ini merasa bahwa mereka harus sesegera mungkin masuk/keluar pasar dan mengambil tindakan. Mereka memiliki motto “later would be late” dan menerjemahkannya secara membabi-buta. Sangat sulit bagi mereka untuk bisa duduk tenang sebentar hingga sistem trading mereka memberikan sinyal yang jelas plus risk to reward ratio yang baik. Akibatnya seringkali mereka melakukan transaksi konyol dengan resiko yang jauh lebih besar ketimbang peluangnya. Sering juga mereka terlalu cepat keluar dari pasar karena tak sabar ingin segera mencicipi secuil profit yang didapat dari transaksinya.

Dosa yang ke-4 ini masih ada kaitannya dengan dosa ke-3 di atas, yaitu melibatkan emosi ketika trading. Sesungguhnya, ini adalah dosa yang paling berat.

Emosi erat kaitannya dengan fear and greed (rasa takut dan serakah). Mereka menempatkan fear (takut) dan greed (serakah) di kutub yang salah.  Ada kegelisahan yang menyeruak hebat ketika melihat tanda minus di transaksi mereka. Anehnya, yang dilakukan bukannya buru-buru membuang transaksi yang minus itu, melainkan tetap menahannya dengan harapan harga akan berbalik dan dewi fortuna segera berbaik hati dan menghampiri mereka. Orang yang terlalu takut rugi tidak cocok melakukan bisnis apapun, apalagi trading. Rasa takut ini, anehnya bertransformasi menjadi keserakahan, dan akhirnya seringkali mereka justru menambah transaksi baru untuk meng-cover transaksi yang minus tadi. Penyesalan akan datang ketika harga tak kunjung berbalik arah dan keberuntungan semakin menjauh dari mereka.

Celakanya, ketika transaksi mereka baru bisa mengumpulkan secuil pips, mereka pun buru-buru menutup transaksi karena takut keuntungan itu akan sirna dibawa oleh koreksi harga.

Dosa ke-5 ini juga paling sering dilakukan oleh para pemula. Mereka Menggunakan sistem trading yang terlalu rumit. Sistem trading yang terlalu rumit biasanya menggunakan terlalu banyak indikator, hingga membingungkan. Akhirnya sang trader menggunakan indikator secara acak yang berujung pada inkonsistensi dalam trading. Ingatlah  bahwa sistem trading yang baik bukanlah sistem yang terlihat “wow” di layar kita, melainkan sistem yang bisa kita mengerti dengan baik dan sudah kita uji kehandalannya.

Dosa ke-6 adalah trading tanpa strategi. Dosa ini lebih tidak elok dan lebih parah daripada dosa nomor 5. Trading tanpa strategi ibarat memasuki medan perang tanpa siasat apa pun. Ujung-ujungnya bisa ditebak: kehancuran. Bersiaplah untuk dibantai di medan perang yang bernama pasar uang jika Anda tak memiliki strategi apa pun. Itu sama saja dengan melempar kantung uang Anda ke perapian, semuanya akan hangus.

Dosa ke-7 adalah tidak disiplin. Strategi yang paling jenius sekalipun tak ada gunanya jika tak ada kedisiplinan dalam menjalankannya. Seringkali seorang trader mengganti level stop loss yang sudah dipersiapkan sebelumnya sesuai dengan sistem trading dan strategi yang telah dipersiapkan sendiri. Celakanya, level stop loss itu bukannya semakin kecil, tapi bertambah besar!

Kedisiplinan juga harus berlaku pada target profit. Jika sistem kita mengatakan kita harus keluar dari pasar, segeralah keluar. Meskipun keuntungan yang diperoleh belum cukup untuk membeli sebatang pensil sekalipun. Plan your trade, trade your plan!

Selanjutnya, dosa ke-8. Yaitu menganggap bahwa forex adalah skema cepat kaya (quick rich scheme). Salah besar! Forex itu adalah bisnis dengan segala atributnya, salah satunya adalah resiko. Oleh karena itu, yang harus dipikirkan adalah “seberapa besar alokasi resiko yang akan saya tempatkan” bukannya “seberapa besar uang yang akan saya dapatkan”. Peluang pasti ada, dan memang sangat-sangat besar, tetapi jangan sekalipun lupakan resikonya!

Dosa ke-9 adalah mengulangi kesalahan yang sama. Dosa ini, ironisnya, justru lebih sering dilakukan oleh para trader yang sudah merasa “senior” dari sisi jam terbang, tapi sebenarnya masih “hijau” dalam hal ilmu. Mereka jadi defensif dan malas belajar. Hey, trading itu perlu ilmu! Dan yang namanya ilmu selalu berkembang sepanjang peradaban manusia. Kebanyakan trader “senior” yang bebal itu merasa sudah tahu dunia, padahal hanya berbekal 2-3 tahun pengalaman trading, itu pun loss melulu. Anehnya, mereka tetap bertahan dengan sistem trading yang itu-itu juga, meskipun sudah terbukti KETIDAKAKURATANNYA. Sekali-dua kali profit yang tak seberapa digembar-gemborkan, namun kerugian yang menggunung tak satupun disinggungnya.

Akhirnya kita sampai pada dosa ke-10, yaitu SOMBONG. Takabur. Merasa paling pintar sejagad forex. Sikap ini yang kemudian akan menjatuhkan mereka ke lubang kerugian yang terdalam, hanya karena mereka terlalu sombong untuk mengakui bahwa analisis mereka salah, dan mereka tak mau melakukan cut loss karena malu. Ingat Bung, Tuhan benci orang sombong.

Nah, itulah 10 dari sekian banyak dosa yang sering dilakukan para trader. Mereka yang melakukan hal-hal di atas telah tercatat sebagai pecundang dalam sejarah per-trading-an. Saya ingin mengutip sebuah ungkapan, yang saya lupa siapa pemilik kalimat terkenal ini: “Successful traders never do what unsuccessful traders do.”

Good luck, dan jangan lakukan dosa!

Share

3 Responses to '10 “Dosa Besar” yang Sering Dilakukan Trader'

  1. Dody says:

    Mengenai dosa ke-4 ada kalimat “Orang yang tak terlalu takut rugi tidak cocok melakukan bisnis apapun, apalagi trading.”
    Apa mungkin maksudnya “Orang yang terlalu takut rugi tidak cocok melakukan bisnis apapun, apalagi trading.”

    Benarkah? Maaf bila salah mengartikan.

  2. Atmanto says:

    haha.. jeli sekali bung Dody ini..
    saya sih menangkap 2 arti dari pembahasan di atas:
    1. Trading kurang cocok untuk orang yang tidak takut rugi (kecuali kalau memeang hobby nya deposit) :D Trading yang baik, sewajarnya diimbangi dengan risk management.
    2. Seperti kata Bung Dody, jika terlalu takut rugi, akhirnya tidak akan pernah “take action” akhirnya bukan trading, tetapi malah memantau harga naik turun. hahaha =))
    IMHO.. loh

  3. Eko Trijuni says:

    Benar sekali, Mas Dody. Terima kasih koreksinya. Sudah saya edit. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Protected by WP Anti Spam