Menguasai Rasa Takut: Jurus Trading Tersulit?

Sebut saja Donny, seorang trader forex yang sehari-hari bergaul dengan grafik dan pergerakan harga mata uang. Suatu hari, Donny sedang berada di depan laptopnya, di jari telunjuk tangan kanannya berada di atas tombol kiri mouse yang dipegangnya erat-erat seolah ia sangat takut kehilangan mouse-nya itu. Matanya menatap lekat-lekat monitor laptopnya yang menampilkan grafik pergerakan harga mata uang yang akan ditransaksikannya. Donny telah melihat sinyal beli yang muncul dari sistem trading yang biasa ia gunakan, itulah sebabnya ia bersiap menekan tombol “BUY”. Donny menahan gerakan telunjuknya ketika ia nyaris saja menekan mouse-nya untuk mengeksekusi transaksinya. Sekelebat keraguan muncul di benaknya, “Apakah sinyal ini valid? Apakah saya memang harus beli sekarang? Bagaimana seandainya jika sinyal ini adalah sinyal palsu dan transaksi ini berakhir dengan kerugian?” Suara-suara itu terus bergema di benaknya, menyeretnya semakin jauh dari logika metode trading yang telah dibuktikannya sendiri memang memiliki akurasi yang cukup baik. Seketika itu juga, Donny kehilangan kepercayaan diri, transaksi pun batal dilakukan….

menguasai rasa takut

Apa yang terjadi sebenarnya pada Donny? Bukankah metode trading yang ia gunakan telah diuji dan terbukti memiliki track record yang bagus?

Kisah Donny ini bukan sepenuhnya kisah fiksi. Pada kenyataannya, kisah ini merupakah “kisah klasik” yang sangat sering terjadi di kalangan para trader. (Pembaca yang sering mengalami kisah ini mungkin sekarang sedang senyum-senyum sendiri…)

Ed Seykota, seorang tokoh dalam dunia trading, pernah menggunakan berkata: “A fish at one with the water sees nothing between himself and his prey. A trader at one with his feelings feels nothing between himself and executing his method.” Terjemahan bebasnya kira-kira seperti ini: “Seekor ikan di air tidak melihat apa pun yang menghalangi dirinya dengan mangsanya. Seorang trader tidak merasakan apa pun yang menghalangi dirinya dari mengeksekusi metodenya”.

Yang terjadi pada diri Donny justru sebaliknya. Ia membiarkan rasa takutnya menguasai pikirannya, sehingga hal itu menghilangkan keberaniannya untuk mengeksekusi transaksinya yang jelas berdasar pada logika metode trading yang telah terbukti kualitasnya. Ini terjadi karena ia tidak menyadari bahwa emosi sangat mempengaruhi performa trading seorang trader. Donny; seperti kebanyakan trader; gagal memahami bahwa ia semestinya tidak melibatkan emosi (dalam hal ini: rasa takut) dalam setiap pengambilan keputusan transaksi.

Oke, adalah hal yang manusiawi untuk merasakan takut. Bahkan dalam beberapa penelitian dikatakan bahwa justru secara naluriah rasa takut bisa menyelamatkan seseorang. Namun pada level tertentu, rasa takut justru bisa tumbuh tak terkendali. Keadaan seperti itu yang mungkin lazim disebut dengan “paranoid”. Faktanya, tidak sedikit trader yang dihinggapi “penyakit” paranoid ini.

Donny sebenarnya tidak perlu mengalami perasaan takut sedemikian rupa yang menghalanginya untuk bisa berpikir obyektif. Setidaknya ada beberapa hal yang perlu disadari agar Donny (dan kebanyakan trader) bisa menguasai rasa takut, bukan malah dikuasai.

Pertama, Donny semestinya sadar bahwa metode trading yang ia gunakan pastilah metode yang telah ia uji berbulan-bulan sebelumnya. Alangkah konyol jika Donny menggunakan metode trading yang baru ia kenal satu-dua bulan saja, karena waktu sesingkat itu tidak cukup untuk mewakili kemampuan yang sebenarnya dari metode tersebut. Nah, kalau memang Donny menggunakan metode yang telah teruji dan memiliki jejak rekam yang baik dalam waktu yang relatif panjang, tidak perlu ragu lagi mengikuti setiap sinyal trading yang muncul.

Kedua, Donny juga harus ingat bahwa selain menerapkan metode trading yang baik, ia juga menerapkan manajemen modal yang baik pula. Di dalamnya ada rasio resiko terhadap peluang (risk to reward ratio), di mana perbandingan resiko selalu lebih kecil daripada peluang. Manajemen modal juga memberikan batasan sejauh mana kerugian yang mungkin akan timbul, bahkan sudah bisa dipastikan tingkat resikonya. Dengan kata lain, kalau pun transaksinya rugi, maka besarannya sudah dibatasi sesuai dengan tingkat ketahanan modal yang ia miliki. Intinya, kerugian sudah pasti bisa ditolerir, karena Donny sendiri yang membuat batasan sesuai dengan kemampuannya sendiri.

Ketiga, sebagai trader Donny juga pasti sudah sadar bahwa tidak mungkin ada metode trading yang seratus persen sempurna. Dari sepuluh kali transaksi misalnya, mungkin ada tiga atau bahkan lima transaksi yang gagal alias rugi. Namun apalah artinya tiga atau lima kali kerugian itu, jika ternyata metode trading itu didukung dengan manajemen modal dan manajemen resiko yang baik, juga risk to reward yang baik pula? Jika Donny menerapkan hal-hal tersebut, maka tiga atau bahkan lima kali kerugian itu tentu hanya akan menyebabkan kerugian yang jauh lebih kecil daripada keuntungan yang dihasilkan dari tujuh atau lima transaksi yang berhasil.

Keempat, Donny perlu membuka kesadaran bahwa rasa takut gagal justru menghambat orang untuk bisa meraih kesuksesan. Mengapa? Karena setiap orang yang senantiasa takut gagal biasanya justru tidak akan melakukan apa-apa. Nah, kalau ada trader yang tidak pernah melakukan transaksi karena takut rugi, maka bisa dipastikan ia tidak akan memperoleh apa pun.

Kelima, Donny harus sadar bahwa resiko adalah bagian tak terpisahkan dari bisnis, apalagi trading. Maka dari itu, Donny harus mengontrol resiko dengan manajemen resiko yang baik. Dengan hal itulah Donny semestinya bisa mengubah resiko menjadi peluang keuntungan yang potensial.

menguasai rasa takut

Jika semua trader seperti Donny menyadari sepenuhnya lima hal di atas, mestinya tidak akan ada trader yang selalu dihantui ketakutan setiap kali akan melakukan transaksi. Ed Seykota juga pernah berkata, “The experience of fear varies from person to person. The positive intention of fear is risk control.” Ya, karena pada dasarnya yang ditakuti para trader adalah resiko, namun dengan adanya manajemen resiko (yang artinya kita mengatur resiko), maka semestinya sudah tidak ada lagi yang perlu ditakuti.

Jadi, setelah Anda membaca pengalaman Donny, dan hal-hal yang mestinya diingat oleh Donny, apakah Anda masih menganggap bahwa menguasai rasa takut rugi dalam trading itu adalah hal yang sulit? Anda sendiri yang bisa menjawabnya. Happy trading, no fear! :)

Keempat, Donny perlu membuka kesadaran bahwa rasa takut gagal justru menghambat orang untuk bisa meraih kesuksesan. Mengapa? Karena setiap orang yang senantiasa takut gagal biasanya justru tidak akan melakukan apa-apa. Nah, kalau ada trader yang tidak pernah melakukan transaksi karena takut rugi, maka bisa dipastikan ia tidak akan memperoleh apa pun.
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Protected by WP Anti Spam